Thursday, January 17, 2013

LIMBAH BELING YANG BERNILAI EKONOMI

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Daur ulang kaca adalah proses untuk mengubah limbah kaca menjadi produk berguna. Limbah kaca harus dipisahkan dengan komposisi kimia, kemudian tergantung pada penggunaan akhir dan kemampuan pemrosesan lokal, mungkin juga harus dipisahkan ke dalam berbagai warna dengan tujuan mengumpulkan warna yang berbeda dari kaca secara terpisah karena kaca mempertahankan warna setelah daur ulang. Jenis yang paling umum digunakan untuk wadah konsumen adalah kaca berwarna, bening, kaca hijau, dan coklat.

Kaca membuat sebuah komponen besar dari limbah rumah tangga dan industri karena berat dan kepadatan. Komponen kaca di tempat sampah umum biasanya terdiri dari botol, gelas pecah, bola lampu dan barang-barang lainnya. Menambah limbah ini adalah kenyataan bahwa metode manual banyak membuat objek kaca memiliki tingkat cacat sekitar empat puluh persen. Daur ulang kaca menggunakan energi  dari manufaktur kaca dari pasir, kapur dan soda.
Setiap metrik ton (1.000 kg) dari kaca limbah didaur ulang menjadi barang baru menghemat 315 kilogram (690 lb) karbon dioksida dari yang dilepaskan ke atmosfer selama pembuatan kaca baru. Kaca yang hancur dan siap untuk remelted disebut cullet. 




Umumnya tempat pengumpulan sampah kaca terpisah untuk kaca bening, hijau dan kuning/ coklat. Reprocessors kaca memerlukan pemisahan dengan warna sebagai warna yang berbeda dari kaca biasanya kimiawi kompatibel. Kaca tahan panas seperti Pyrex atau borosilikat kaca tidak boleh dibuang dalam wadah kaca sebagai bahkan satu bagian dari materi tersebut akan mengubah viskositas fluida dalam tungku pada remelt. Kaca merupakan bahan yang ideal untuk daur ulang dan di mana ia digunakan untuk pembuatan wadah kaca baru itu hampir tak terbatas didaur ulang. 


Dari sifatnya limbah kaca yang memiliki nilai ekonomi kami juga menerima botol beling bekas dalam jumlah yang banyak, atau bisa hubungi kami:
  • Cahyo Tri A  (0852 8104 1030)
  • Dwi Gunardi  (0815 7491 9696)


Tuesday, January 22, 2008

Gambar disamping saya dan ibuku di Semarang, hari Jumat (12/21/07). Saat itu acara akad nikahnya kakakku "Nur Eko Ratno Widodo" dengan "Cahyani Dewi Nurfitri. Semoga mereka bahagia sampai Allah memanggil di antara mereka. Buat Ayah sama Kak Tari maaf ya.... Gambar kalian terpotong.


Saturday, November 10, 2007

Mitos Seputar Tidur

Benarkah mendengkur bisa diobati? Apakah berat badan kita berpengaruh pada pola tidur? Ada berbagai jawaban mengenai hal itu dan sebagian adalah berupa mitos. Yang mana yang benar?
Mitos #1:
Mengorok sangat mengganggu, tetapi tidak terlalu berbahaya. Siapa bilang? Yang jelas, mengorok sangat mengganggu bagi teman tidurnya atau bagi orang yang tidur di kamar yang sama atau bahkan di rumah yang sama. Mengorok dapat merupakan tanda-tanda orang tersebut mengidap gangguan pada tidur atau yang disebut apnea.

Mitos #2:

Mengorok dapat diobati, yaitu dengan cara menggunakan alat khusus Walaupun berbagai macam cara dapat dilakukan untuk mengatasi masalah mendengkur dengan menggunakan alat khusus, hal ini berbahaya. Konsultasikan terlebih dulu dengan dokter. Mungkin dokter akan memberikan resep khusus untuk mengatasi masalah tersebut.

Mitos #3:

Tubuh dapat beradaptasi paling tidak hanya dengan tidur selama dua atau tiga jam. Walaupun kebutuhan tidur setiap orang tidak sama, 8 jam setiap malam adalah jumlah jam yang disarankan untuk tidur setiap malam. Bila tidur kurang dari 6 jam semalam, dapat mempengaruhi kesehatan Anda, baik fisik maupun mental.

Mitos#4: Bila kurang tidur beberapa jam semalam, Anda dapat menggantinya pada malam berikutnya. Hal ini tidak benar. Kekurangan tidur tidak pernah bisa digantikan. Anda dapat tidur sesuai jadwal keesokan malamnya tetapi tetap tidak dapat menggantikan kekurangannya.

Mitos #5:

Mengkonsumsi minuman beralkohol sebelum tidur dapat membuat tidur nyenyak. Memang, sih, alkohol memberikan efek penenang dan dapat membuat Anda mengantuk lalu tertidur. Tetapi
ketenangan tidur tersebut hanya berlangsung selama 3-4 jam. Lalu, minuman yang menenangkan tersebut mulai mengganggu pola tidur Anda. Bentuk gangguan bisa berupa terbangun tengah malam, mimpi buruk, dan sakit kepala. Bila ingin tidur nyenyak, sebelum tidur minum susu hangat, teh herbal hangat, atau tenemukan cara lain selain minum alkohol.

Mitos #6:

Berat badan tidak ada hubungannya dengan cara tidur. Hal ini jauh dari benar. Orang yang gemuk biasanya lebih banyak mendengkur. Penderita obesitas umumnya mengidap gejala apnea. Tambahan lagi, bila mengidap obesitas, posisi tidur sangat terbatas, tidak dapat menggerakan badan sesuka hati.

Mitos #7: Mimpi buruk dan nightmare merupakan hal yang sama. Kedua jenis ini merupakan gangguan yang berbeda. Mimpi buruk merupakan mimpi yang menyeramkan. Bila terbangun tengah malam karena mimpi buruk, si pemimpi dapat ingat akan mimpinya sampai hal yang sekecil-kecilnya. Sementara nightmare merupakan hal yang menakutkan. Si pemimpi, pada waktu terbangun tengah malam, biasanya tidak dapat mengingat apa yang membuat dia takut tetapi gejala teror tetap ada dan membutuhkan waktu untuk kembali tenang.

Mitos #8:

Enuresis /mengompol adalah jenis gangguan yang hanya dialami oleh anak-anak. Enuresis /mengompol memang lebih sering dialami oleh anak-anak, tetapi orang dewasa dapat mengalaminya dan biasanya bisa menimbulkan berbagai macam masalah. Ada beberapa metode untuk mengatasi enuresis. Baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.

Mitos #9:

Sebaiknya jangan menggunakan alarm untuk membangunkan Anda. Dulu hal ini dibenarkan tetapi penelitian membuktikan, selama alarm tidak mengejutkan, hal ini tidak masalah.

Mitos #10: Jumlah jam tidur kaum manula/orang tua biasanya lebih sedikit dibanding orang muda. Hal ini tidak benar. Pada dasarnya, manusia membutuhkan jumlah jam tidur yang sama, baik tua maupun muda. Kaum manula, biar bagaimanapun, memiliki masalah-masalah khusus yang menghalangi mereka untuk tidur sesuai dengan yang mereka butuhkan.